
Setiap malam bulan purnama di bulan kedua belas kalender lunar Thailand, permukaan air di seluruh penjuru negeri berubah menjadi hamparan cahaya yang berkilauan. Loi Krathong, yang secara harfiah berarti “menghanyutkan keranjang”, adalah salah satu festival paling puitis dan bermakna di Thailand. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Air, Phra Mae Khongkha, sekaligus simbol untuk melepaskan segala kemalangan, kebencian, dan kesalahan di masa lalu agar hanyut bersama arus air.
Struktur dan Filosofi Krathong
Pusat dari perayaan ini adalah Krathong, sebuah wadah kecil menyerupai bunga teratai yang dibuat secara tradisional dari bahan-bahan alami. Setiap elemen yang diletakkan di atas keranjang tersebut memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Thailand.
- Batang Pisang dan Daun Pisang: Digunakan sebagai struktur utama yang dapat mengapung dan mudah terurai oleh alam.
- Bunga Segar: Melambangkan penghormatan kepada ajaran Buddha, biasanya menggunakan bunga melati atau marigold.
- Lilin dan Dupa: Cahaya lilin melambangkan kebijaksanaan dan pencerahan, sementara dupa berfungsi sebagai media doa.
- Koin atau Potongan Kuku/Rambut: Sering kali ditambahkan sebagai simbol melepaskan bagian buruk dari diri dan permohonan keberuntungan materi di masa depan.
Perbedaan Regional dalam Perayaan
Meskipun dirayakan secara nasional, beberapa wilayah di Thailand memiliki cara unik dalam mengekspresikan tradisi Loi Krathong sesuai dengan warisan budaya lokal mereka.
| Wilayah | Nama Lokal | Ciri Khas Perayaan |
|---|---|---|
| Chiang Mai | Yi Peng | Melepaskan ribuan lampion kertas (khom loy) ke angkasa. |
| Sukhothai | Loi Krathong | Pertunjukan cahaya dan suara di reruntuhan kota kuno. |
| Tak | Loi Krathong Sai | Menggunakan batok kelapa sebagai wadah lilin yang diikat berantai. |
| Bangkok | Loi Krathong | Pusat keramaian di sepanjang dermaga Sungai Chao Phraya. |
Ritual di Tepi Sungai dan Kelestarian Alam
Saat malam tiba, masyarakat berkumpul di tepi sungai, kanal, atau kolam untuk menyalakan lilin pada Krathong mereka. Sebelum menghanyutkannya, peserta biasanya menutup mata dan mengucapkan doa atau harapan secara pribadi. Pemandangan ribuan cahaya yang menjauh dari tepian menciptakan suasana hening yang sakral sekaligus magis.
Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan di tahun 2026, terjadi pergeseran besar dalam bahan pembuatan Krathong. Banyak warga kini beralih menggunakan bahan makanan ikan (roti) atau bahan organik yang lebih cepat larut guna menjaga kebersihan ekosistem sungai. Di kota-kota besar, pemerintah juga menyediakan area khusus pembersihan setelah festival berakhir untuk memastikan bahwa penghormatan kepada Dewi Air tidak berujung pada pencemaran lingkungan yang mereka sakralkan.
Bagikan Artikel
Sukai artikel ini?
Jadilah bagian dari komunitas kami dan dapatkan update festival budaya terbaru
Komentar